3 Cara Menafsirkan Mimpi Menurut Rasulullah SAW

Post On: May 11, 2017
By: Risaru

mimpi

Hampir semua orang pernah bermimpi ketika tidur. Selain mimpi yang terbilang kurang jelas dan sulit diingat, ada kalanya yang dimimpikan sangat berkesan, sehingga mungkin membuat kita tidak bisa melupakannya selama seumur hidup. Pada mimpi yang sangat berkesan ini, agaknya sering kali kita bertanya-tanya “Apa sih maksud dari mimpiku barusan?” “Kok aku mimpi kayak gini ya?” dsb. Dan pemimpi akan lebih penasaran lagi  jika mimpi yang sangat berkesan ini menghadirkan benda, tempat, dan/atau orang berarti dalam hidupnya.

Ada banyak sekali teori tentang penafsiran mimpi yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh psikologi modern. Misalnya Sigmund Freud, yang berasumsi bahwa mimpi adalah wish fullfillment, yaitu pemenuhan keinginan yang berasal alam tidak sadar (unconscious). Oleh karena itu, beberapa ilmuwan modern melakukan penelitian terkait penafsiran mimpi dengan berbagai cara baik mencoba mencari metode baru maupun menkonfirmasi teori-teori yang telah ada.

Padahal, jauh sebelum para tokoh psikologi modern mengemukakan teori penafsiran mimpi, para nabi dan rasul telah dapat menafsirkan mimpi. Misalnya saja kisah Nabi Yusuf yang diceritakan oleh Al-Qur;an dalam surat Yusuf. Ketika masih kecil, beliau bermimpi melihat sebelas matahari, bulan, dan bintang sujud kepadanya (QS Yusuf[12]:4) yang kurang lebih tafsirnya adalah 11 saudaranya akan tunduk kepadanya setelah Allah memberinya cobaan berupa dikurungnya Nabi Yusuf di penjara dan setan telah merusak hubungan antara beliau dengan saudara-saudaranya (QS Yusuf[12]:100)

Selain Nabi Yusuf AS, Nabi Muhammad SAW pun dapat menafsirkan mimpi. Kemampuan Rasulullah SAW menafsirkan mimpi telah terbukti melalui beberapa hadis. Berikut metode penafsiran mimpi Rasulullah SAW yang dirangkum menjadi 3 cara menafsirkan mimpi menurut Rasulullah SAW, di antaranya:

1. Berdasarkan Arti Benda yang ada Dalam Mimpi

Dari Abdullah bin Salam RA, ia berkata:

“Aku bermimpi seakan-akan berada di sebuah taman dan di tengah-tengah taman tersebut terdapat tiang. Di atas tiang itu ada kehijau-hijauan. Aku kemudian diperintah ‘Naiklah!’. Aku lalu mengatakan ‘Aku tidak mampu’ Kemudian Washif mendatangiku dan mengangkat pakaianku. Aku lalu naik dan memegang tiang, lalu meraih kehijau-hijauan itu. Aku kemudian ceritakan hal ini kepada Nabi SAW, beliau berkata: ‘Taman itu adalah taman Islam, tiang itu ialah tiang Islam, dan kehijauan itu ialah tiang kokoh yang senantiasa engkau memeganginya hingga engkau meninggal dunia'” (HR Syaikhan)

Rasulullah SAW menafsirkan taman sebagai agama Islam dan segala hal yang berhubungan dengannya. Dan Tiang sebagai tiang rukun islam yang kokoh yang jika kita tetap berpegang teguh padanya, maka kita akan selalu berada di jalan-Nya yang lurus hingga ajal menjemput.

2. Berdasarkan Arti Nama Seseorang yang Ada Dalam Mimpi

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Suatu malam aku bermimpi sebagaimana orang yang bermimpi ketika tidur. Seakan-akan aku berada di rumah ‘Aqabah bin Rafi’. Kami lalu diberi kurma segar yang lezat dan enak dari ‘Ibnu Thaba’. Maka aku menafsirkan sebagai kejayaan kita dalam urusan dunia, kesudahan yang baik dalam urusan akhirat, dan sesungguhnya agama kita benar-benar baik dan bagus” (HR Muslim dan Abu Dawud)

“Rafi” berarti derajat yang tinggi, melambangkan bahwa orang muslim memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah, sehingga memiliki kejayaan di dunia. “Aqobah” menandakan kesudahan di akhirat nanti. “Thaba” berarti lezat dan enak menandakan kebaikan, kebagusan, dan kesempurnaan agama islam.

3. Berdasarkan Arti dari Kejadian Tertentu dalam Mimpi

Dari Said bin Musayyab, ‘Aisyah RA menceritakan mimpinya kepada ayahnya (Abu Bakar RA), ia berkata:

“Aku melihat bulan jatuh di kamarku, maka ayahnya berkata: “Jika engkau benar-benar melihatnya dalam mimpimu, di rumahmu nanti akan dikuburkan tiga penduduk bumi yang terbaik. Ketika Nabi SAW meninggal dunia, ayahnya berkata: “Hai ‘Aisyah RA, ini adlaah bulan terbaik yang pernah engkau impikan itu” (HR Syaikhan, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Kejadian jatuhnya bulan di kamar ‘Aisyah RA menandakan akan dikuburnya tiga orang terbaik di kamar ‘Aisyah RA, yaitu Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA, dan Umar bin Khaththab RA.

Catatan Penulis Sebagai Penutup

Perlu disadari bahwa tafsir mimpi adalah ilmu yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Bahkan orang yang memiliki ilmunya pun mungkin tidak bisa menafsirkan mimpi secara sempurna. Penulis sebagai orang yang menulis artikel ini pun tidak bisa melakukan tafsir mimpi. Tujuan penulis membuat artikel ini adalah menyampaikan kepada pembaca akan tanda-tanda kebesaran Allah tentang mimpi. Melalui artikel ini, kita (penulis dan pembaca) menjadi mengetahui bahwa mungkin terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh Allah SWT melalui mimpi –karena ada juga mimpi yang berasal dari setan. Sebagai orang yang beriman kepada-Nya, kita harus meyakini akan adanya tafsir mimpi karena hal tersebut tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadis

Bahkan mungkin sebagai manusia biasa, Rasulullah SAW pun memiliki keterbatasan –atau mungkin ingin menguji, wallahu’alam– dalam menafsirkan mimpi sehingga beliau pun bertanya kepada Abu Bakar.

Dari Ibrahim bin Ja’far al-Mahmudi Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar RA:

“Aku bermimipi seakan-akan aku memakan makanan yang terbuat dari kurma dan tepung. Aku merasakan lezatnya makanan itu, tetapi ada sesuatu yang membuat tenggorokanku sulit menelannya. Kemudian Ali RA memasukkan tangannya dan akhirnya makanan itu menjadi mudah ditelan” Kemudian Abu Bakar RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW, itu merupakan rahasia engkau yang dimunculkan sebagiannya sehingga engkau merasa senang dan sebagiannya ada yang membuat sulit ditelan, kemudian engkau mengutus Ali RA. Maka sesuatu yang membuat sulit itu menjadi mudah” (HR Ibnu Hisyam)

Referensi

Najati, M. U. (2004). Psikologi dalam Perspektif Hadits (Al-Hadits wa ‘Ulum an-Nafs). Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru. (Diterjemahkan oleh Zaenudin Abu Bakar, Lc)

Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality 7th Edition. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Faza, A. A. (2007, Oktober 11). ‘Aisyah Binti Abu Bakar (Wafat 57 H). Diakses pada Mei 11, 2017, dari Para Ulama Ahlul Hadis: https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/01/aisyah-binti-abu-bakar-wafat-57-h

Credit Image

Tags: , ,