4 Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik Seseorang

Post On: April 24, 2017
By: Risaru

Perlu disadari bahwa pada umumnya, orang-orang yang hebat memiliki daya tarik yang luar biasa. Misalnya, Chelsea Islan, seorang artis yang kecantikan dan kebahagiaannya terpancar pada parasnya telah mendampingi hidupnya menuju kesuksesan. Contoh lain adalah Mario Teguh, seorang motivator yang kecerdasannya dalam memotivasi orang lain serta kepandaiannya dalam mengatur emosi membuatnya dipandang sebagai orang dengan intelektualitas tinggi. Dua contoh di atas adalah orang-orang hebat yang masing-masing memiliki daya tarik tersendiri.

          Daya tarik merupakan faktor yang penting dalam menjalani hubungan apapun baik yang bersifat intim (persahabatan, percintaan, dll) maupun fungsional (kerja sama, bisnis, dll). “Ah, itu sih namanya mandang fisik atau kepinterannya doang!” Mungkin beberapa dari pembaca berpikir demikian. Namun, jika kita lebih cermat dalam menjalani kehidupan, maka kita akan menyadari bahwa manusia merupakan “makhluk visual” –Dalam arti terpengaruh oleh keindahan atau “kejelekkan” pandangannya– dan “makhluk fungsional” –Dalam arti lebih tertarik atau tepatnya lebih bersemangat terhadap sesuatu yang menguntungkan dirinya. Hal tersebut merupakan hal yang wajar dan mungkin terjadi tanpa disadari oleh setiap manusia  (Bukan berarti manusia adalah makhluk yang jahat lho ya!). Oleh karena itu, alangkah baiknya jika pengetahuan akan hal ini kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berbuat kebaikan. Bersumber dari sebuah buku, tulisan ini akan mejabarkan 4 faktor yang mempengaruhi daya tarik dari perspektif Psikologi Sosial, diantaranya:

          1. Afiliasi dalam Kelompok yang Nyaman

          Afiliasi atau keterikatan dalam kelompok merupakan kebutuhan setiap manusia yang bersifat neurobiologis (beberapa saraf dalam otak hanya akan teraktivasi jika manusia memiliki afiliasi), sehingga fungsi otak akan beroperasi secara maksimal jika manusia berafiliasi terhadap kelompok tertentu. Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang “hobi” sendirian sekalipun jika telah diterima oleh orang lain, maka mood dan harga dirinya akan meningkat. Penelitian lain menunjukkan bahwa dekatnya relasi kita dengan orang lain mempengaruhi cara berpikir atau persepsi kita terhadapnya dan membuat kita semakin paham maksud dari apa yang kita pikirkan dan rasakan (self-disclosure).

          Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang bersifat kooperatif biasanya akan lebih mudah menyelesaikan masalah, memenuhi kehidupannya serta lebih bahagia. Suasana yang positif dan menyenangkan pun terbawa oleh orang tersebut, sehingga menampakkan daya tarik yang membuat orang lain tertarik. Oleh karena itu, orang yang baik dalam berafiliasi akan memiliki daya tarik yang tinggi.

          2. Emosi yang Positif terhadap Apapun dan Siapapun

Sumber: Pojok kanan gambar

Sumber: Ada di pojok kanan gambar

          Emosi adalah perasaan yang dimiliki seseorang terhadap orang lain atau sesuatu (bukan emosi dalam artian kesal lho ya!). Dengan memiliki emosi, seseorang dapat merasakan perasaan yang bermacam-macam seperti senang, sedih, galau, dsb.

          Seseorang dengan emosi positif akan membuat orang lain senang, sedangkan seseorang dengan emosi negatif akan membuat orang lain kurang senang. Hal ini terjadi karena suasana emosi dalam diri seseorang akan mempengaruhi segala perilaku orang tersebut baik secara verbal maupun non-verbal. Misalnya, seseorang dengan emosi positif akan cenderung berkata baik, perkataan yang baik ini akan membuat orang lain senang dan mungkin ikut merasakan apa yang orang tersebut rasakan (empati), sehingga membuat orang dengan emosi positif ini akan memiliki daya tarik yang kuat karena setiap orang pasti tertarik terhadap emosi yang positif.

          3. Kedekatan (Proximity) dengan “Si Target”

          Kedekatan tidak hanya dapat diperoleh dari  hubungan yang baik dan intens dengan orang lain. Robert Zajonc (tokoh ahli psikologi sosial) mengemukakan teori repeated exposure effect, yaitu seseorang akan merasa lebih dekat dengan orang lain yang sering ditemuinya. Misalnya, di kelas atau kantor, jika kita dalam kesulitan dan ingin bertanya, tentu kita akan cenderung bertanya kepada orang yang sering kita jumpai dalam kelas atau kantor daripada orang yang jarang atau bahkan baru kita jumpai. Oleh karena itu, seringnya kehadiran seseorang dalam suatu kelompok akan menambah daya tarik orang tersebut.

          4. Penampilan Fisik

          Selain karena manusia sebagai “makhluk visual” seperti yang disebutkan di atas, sebuah penelitian menunjukan bahwa seseorang dengan penampilan fisik yang menarik akan dipandang oleh orang lain sebagai orang yang cerdas, baik, murah hati, dan sifat baik lainnya daripada orang dengan penampilan fisik kurang menarik. Hal ini terjadi karena manusia memiliki stereotip yang sangat positif terhadap orang dengan penampilan fisik menarik.

          Penampilan fisik tidak hanya berupa wajah yang cantik atau tampan. Mengenakan pakaian yang rapih, bersih, dan bagus juga dapat menambah penampilan. Setelah mengetahui hal tersebut, tentulah kita harus berusaha untuk tampil yang terbaik pada setiap hari dalam kehidupan kita.

          Demikianlah 4 faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang. Sudahkah kita memiliki 4 aspek di atas? Jika belum, tentu ada baiknya kita berusaha mengembangkan 4 aspek tersebut untuk menambah kualitas hidup kita

Referensi:

Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2012). Social Psychology 13th Edition. New Jersey: Pearson Education Inc.

Tags: , , ,