Handphone “Pintar” dan Manusia “Bodoh”

Post On: April 28, 2017
By: Risaru
In: Umum

Dewasa ini, perkembangan teknologi di dunia berlangsung sangat cepat. Pada dua dekade terakhir, handphone yang pada awalnya tampilan layarnya berupa “kotak-kotak”, kini grafiknya menjadi sangat indah karena bantuan VGA dalam handphone tersebut. Komputer –berasal dari data compute yang berarti menghitung– yang pada awalnya hanya alat penghitung, kini sudah dapat digunakan untuk “segalanya” baik sebagai konsol game, pembaca media masa, alat komunikasi, pengakses internet, dll. Dan bahkan jika dipikirkan kembali, fungsi handphone pada saat ini seperti “komputer kecil” (dapat melakukan “segalanya”).

          Pada era modern ini, seringkali didapati banyak orang yang sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Dengan kepala menunduk, mereka asyik memainkan handphone-nya tanpa memperhatikan lingkungan di sekelilingnya. Obrolan, candaan, tawaan, senyuman, dan saling bertatapan sudah sangat jarang didapati, bahkan mereka melakukan hal-hal tersebut “bersama” dengan handphone-nya layaknya “orang gila”

          Diyakini semua orang pasti sadar akan kebodohan ini. Akan tetapi, trend yang terjadi seperti itu membuat orang-orang seakan terpaksa untuk mengikutinya. Obrolan, candaan, tawaan, senyuman, dan saling bertatapan dianggap sebagai hal yang tabu karena orang-orang lain sedang “sibuk” dengan handphone-nya. Hal ini membuat budaya interaksi antar manusia secara nyata –khususnya bagi para pemuda– menghilang secara perlahan. Dan pada saat yang bersamaan, budaya berinteraksi melalui dunia maya semakin menguat.

          Berkaitan dengan artikel saya yang sebelumnya (4 Faktor yang Mengaruhi Daya Tarik Seseorang), telah diketahui bahwa berafiliasi merupakan kebutuhan neurologis pada setiap manusia. Tentu saja hal ini terjadi karena adanya interaksi antara manusia secara nyata. Bagaimana bisa afiliasi –yaitu memiliki ikatan hubungan dengan kelompok– yang nyaman dapat terjadi tanpa interaksi antara manusia secara nyata?

          Dengan berinteraksi secara nyata, informasi –berupa nada suara, tatapan mata, tarikan napas, gerak tubuh, sentuhan, dan bahasa non-verbal lainnya– dari orang lain bisa didapatkan lebih banyak daripada dengan berinteraksi di dunia maya. Di dunia maya, informasi yang bisa didapatkan dari orang yang sedang berinteraksi dengan kita terbatas berupa pembahasaannya yang berupa teks saja. Informasi berupa nada suara, intonasi suara, dll hanya bisa didapatkan jika kita sudah mengenal baik orang tersebut, itupun hanya berasal dari akal kita yang mencoba menebak berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Oleh karena keterbatasan akal manusia, tentu saja tebakan tersebut sangat rawan terjadi kesalahan.

          Dengan demikian, alangkah baiknya jika kita merefleksikan diri masing-masing. Perlukah kita memainkan handphone secara terus-menerus? Apakah budaya menunduk di publik adalah hal yang baik? Bisakah kita hidup dengan membatasi bahkan tanpa memainkan handphone? Dengan pendapat yang berbeda-beda, tentu setiap manusia memiliki jawabannya masing-masing.

Sumber: Pribadi

Tags: , , ,